Maafkan Aku, Sobat.

Sobat, maafkan aku. hanya itu yang mampu terucap dari mulut ini. Mulut yang merasa tak bersalah ini. Namun sebenarnya salah. Sobat, kenali aku. Kenali aku sekali ini saja tuk kau hina, caci maki aku. Tak diam seperti ini. Sobat, ini aku. Aku yang ingin dikasihani ini.

Sobat, aku sahabatmu. Masihkan? Kesedihanmu itu bisakah aku hapusnya?. Aku yang tak tau dimana aku menempatkan hati ini. Aku tahu, akulah yang mendampingimu waktu kau menangisi dia pada saat hari itu. Aku tahu. Aku bahkan mengingatnya. Aku tau kepedihanmu. Tapi sekarang aku yang jatuh hati padanya. Pada pesona yang pernah dia taburkan padamu. Tapi kini akulah yang memilikinya. Bukan maksudku sengaja bukan. Sungguh bukan. Beribu kali aku minta maafpun mungkin kau sulit bahkan enggan memaafkanku.

Sobat, Ini perjuanganku. Itu yang bisa kujelaskan padamu. Perjuangan yang mungkin dan bahkan kau tahu. Perjuangan dimana aku bisa mengakhiri kepedihanku dimasa lalu dengan hadirnya dia. Apa kau ingin aku menyerah dengan perjuangan ini? Sungguh sulit bagiku. Ini cintaku. Cinta dia. Cinta kami. Mungkin. Aku tak perduli seberapa dia inginka aku atau tidak. Yang ku tahu aku butuh dia sekarang. Perjuangan slama ini yang jatuh padanya. Maaf, aku tak bisa melepasnya. Aku ingin memperjuangkannya.

Tuhan. Aku butuh hujan. Hujan deras. yang mampu menutupi kesedihan akanmu sobat. Berharap akan ada pelangi sehabis hujan. Maafkan aku yang tak tau menepatkan hati ini.

No comments: