Dimana Aku Berteduh ?


Pada langit malam tempat aku berteduh ini, suara deru mesin berkoar-koar, hiruk-pikuk jalanan malam tempat perteduhan ini. Tak ada jeda keheningan yang aku mau. Lampu-lampu itu bersinar kelap-kelip saling menampakkan kemegahan mereka tersendiri, tampak persaingan antara mereka, gemerlap kota ini. Tak ingin kalah kau pun ingin bersaing dengan suara-suara itu, aku terjebak, dimana aku berteduh?  Sungguh aku terjebak


“aku terjebak diantara semua kebisingan itu, suara-suara itu seakan-akan menyumbat suara hati yang sudah bergemuruh”

Bagaimanakah aku harus menumpahkanmu, membiarkanku juga tenang sejenak dari gangguan-gangguan kebisingan itu. Aku terjepit antara suara-suara itu dan kau, suara hati. Bisakah kau dan suara-suara itu berkompromi agar aku bisa tenang sejenak? Berpikir dimana harusnya aku berteduh. Berteduh diantara suara-suara itu ataukah berteduh pada suara hati yang tak mampu aku ungkapkan. Aku terjepit.

Aku dan kau, kita bagaikan sebuah botol yang terhempas bersama lautan. Aku adalah botol itu dan kau ruang di dalam botol itu. Kita terombang ambing di derasnya laut yang terhempas batu karang, ya suara-suara itu ombaknya. Dipermainkan oleh ombak, mereka berkuasa sepenuhnya, cepatlah cari bala bantuan, agar aku dan kau bisa menepi di tepian itu, dan tak tehempas olehnya lagi.

Aku hidup berteduh pada siapa? Tak bisakah kau diam sejenak? Beri aku waktu, karena aku masih bertanya aku berteduh pada siapa?


Ditulis disebuah tempat persembunyian ditengah kota menjelang senja, dengan suasana hati yang kacau yang masih berampas walau belum diperah sarinya.

No comments: